Nafkah Rp200 Juta Dipertanyakan, Sarwendah Disindir Jago Mark Up — Ini Kronologi Lengkap Polemik Ruben Onsu vs Sarwendah
Angka itu bukan kecil: Rp200 juta per bulan. Itu adalah nominal nafkah yang selama ini dibayarkan Ruben Onsu kepada mantan istrinya, Sarwendah, pasca perceraian mereka yang resmi pada akhir 2024. Untuk kebutuhan tiga anak — Thalia, Thania, dan Onni — beserta berbagai biaya hidup yang menyertainya.
Selama berbulan-bulan, angka itu mengalir tanpa banyak pertanyaan. Sampai suatu hari Ruben Onsu meminta satu hal yang terdengar sederhana: rincian penggunaan nafkah tersebut. Permintaan yang tampak wajar dari seorang ayah yang ingin transparansi atas uang yang ia kirimkan setiap bulan. Tapi bagi Sarwendah, permintaan itu rupanya tidak terasa sesederhana itu — dan dari sinilah konflik baru meledak ke permukaan, jauh lebih ramai dari yang siapapun duga.
📌 Konteks: Polemik pasca-perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah · Dipicu oleh permintaan rincian nafkah Rp200 juta per bulan · Memanas kembali pada Juni 2026 setelah video sindir Sarwendah beredar luas di media sosial
Kronologi: Dari 11 Tahun Pernikahan ke Perang Sindir di Medsos
Untuk memahami polemik ini sepenuhnya, perlu mundur sejenak ke konteksnya. Ruben Onsu dan Sarwendah menikah selama 11 tahun — pernikahan yang di mata publik selalu terlihat hangat dan harmonis. Tapi keretakan datang perlahan, dan pada akhir 2024, Ruben Onsu resmi mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Perceraian pun diputuskan.
Dalam kesepakatan pasca-cerai, Ruben menyanggupi nafkah bulanan yang totalnya mencapai Rp200 juta per bulan — bukan angka yang muncul tiba-tiba, melainkan berdasarkan perhitungan kebutuhan yang sudah berjalan selama pernikahan. Pihak Sarwendah menegaskan angka itu adalah kesepakatan tertulis yang disetujui kedua belah pihak secara sadar.
💰 Komponen Nafkah yang Dipersoalkan
Biaya hidup sehari-hari tiga anak
Biaya pendidikan dan asuransi anak
Gaji asisten rumah tangga (ART)
Gaji driver pribadi
Tagihan listrik rumah Sarwendah
Biaya plastik sampah rumah Sarwendah — yang paling banyak menjadi bahan perbincangan publik
Permintaan Rincian yang Memicu Segalanya
Polemik meledak ketika Ruben Onsu meminta agar Sarwendah merinci penggunaan Rp200 juta yang ia kirimkan setiap bulan. Ruben menjelaskan alasannya dengan cara yang menurutnya logis: ia ingin ada dokumentasi jelas agar kelak, jika anak-anaknya mempertanyakan peran sang ayah, ia punya bukti nyata. Bukan soal tidak percaya — tapi soal transparansi dan dokumentasi untuk kepentingan anak.
"Itu kan sudah diceritakan secara detail, nah terus dirinci dan di-reimburse. Tapi gue kan berhak dong nanya itu untuk apa, mana rinciannya. Dengan tujuan kita kan sudah sama-sama sendiri ya, nanti kalau anak gue nanya 'Ayah gak pernah ini' — gue ada buktinya."
— Ruben Onsu, di program Brownis Trans TV, 8 Juni 2026
Permintaan itu rupanya tidak diterima dengan baik oleh Sarwendah. Ia kemudian melakukan siaran langsung di media sosial yang isinya diduga menyindir Ruben terkait Rp200 juta tersebut — termasuk pernyataan bahwa ia tidak membutuhkan uang itu. Ruben merespons melalui unggahan media sosial yang menyinggung soal pengorbanan dan etika lisan.
Sindiran Netizen: Dari "Jago Mark Up" Hingga Plastik Sampah
Ketika kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, merinci komponen nafkah kepada publik, reaksi netizen datang bertubi-tubi. Yang paling banyak disorot adalah komponen-komponen yang dianggap tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan anak — seperti biaya listrik rumah Sarwendah, gaji ART, gaji driver, dan yang paling mencuri perhatian: biaya plastik sampah.
Sindiran langsung bertebaran. Salah satu yang paling banyak dibagikan: "Gue bilang sih habis ini si Ci Wend kariernya bakal cemerlang karena ditawarin posisi di pemerintahan. Skill mark-up budget-nya tingkat dewa!" — sebuah lelucon yang secara tidak langsung menyinggung isu korupsi MBG yang tengah ramai bersamaan di waktu yang hampir sama. Sarwendah kemudian meminta maaf kepada publik atas tutur katanya dalam siaran langsung tersebut.
Pihak Sarwendah Merespons: "Ini Kesepakatan Bersama"
Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa angka Rp200 juta bukan paksaan dari pihak Sarwendah, melainkan hasil kesepakatan tertulis yang disetujui secara sadar oleh kedua belah pihak saat proses perceraian berlangsung. Ruben, menurut Chris, sangat memahami detail kebutuhan rumah tangga karena ia sendiri yang menentukan angkanya berdasarkan pengeluaran yang selama ini berjalan.
"Begitu ada masalah dia bilang bahwa ini pembayarannya besar, pengeluarannya besar. Sekarang pertanyaannya, siapa yang meminta? Itu kan sudah diatur dalam kesepakatan. Sangat tidak adil jika kesepakatan yang awalnya dibuat dengan dasar keikhlasan kini dijadikan alasan untuk membangun narasi negatif."
— Chris Sam Siwu, Kuasa Hukum Sarwendah
Satu Angka, Dua Versi Kebenaran
Di sinilah inti dari seluruh polemik ini. Ruben Onsu dan Sarwendah sama-sama merasa benar. Ruben merasa wajar meminta transparansi atas uang yang ia kirimkan. Sarwendah merasa angka itu sudah disepakati dan tidak perlu dipermasalahkan setelah semua selesai. Dua perspektif yang masing-masing punya logikanya sendiri.
Yang kemudian terjadi — saling sindir di media sosial, adu kuasa hukum di depan kamera, perdebatan soal plastik sampah yang menjadi bahan candaan — adalah akibat dari konflik yang seharusnya diselesaikan secara privat, bukan di hadapan jutaan pasang mata. Tiga anak yang ada di tengah semua ini tentu yang paling perlu dipikirkan kelanjutannya.
📌 Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan publik dari kedua belah pihak dan kuasa hukum masing-masing yang disampaikan kepada media. Redaksi menyajikan informasi secara berimbang tanpa berpihak kepada salah satu pihak.
💬 0 Komentar
Tulis Komentar
Artikel Terkait