Mengapa Kelas Menengah di Indonesia Kian Menyusut? Ini Analisis Ekonomi
Di atas kertas, ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen pada Kuartal I 2026 — salah satu capaian kuartalan terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik angka yang tampak membanggakan itu, ada sebuah fenomena yang diam-diam menggerus fondasi ekonomi bangsa: kelas menengah Indonesia terus menyusut.
Bukan dalam hitungan kecil. Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026 yang diterbitkan Bank Dunia mengungkap data yang mengejutkan: proporsi pekerja yang memperoleh penghasilan setara kelas menengah turun hampir separuh hanya dalam tujuh tahun — dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sedikit di atas 7 persen pada 2025. Dalam angka absolut, Mandiri Institute mencatat penurunan dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
📌 Data Kunci: Kelas menengah Indonesia menyusut 1,2 juta orang dalam setahun (2024→2025). Jika dibandingkan puncaknya di 2019 (57,33 juta), sudah berkurang lebih dari 10 juta orang dalam enam tahun. Sementara kelompok "aspiring middle class" (kelas menengah bawah) justru melonjak 4,5 juta jiwa hingga kini mencakup 50,4% populasi — lebih dari separuh rakyat Indonesia.
Paradoks Pertumbuhan: Ekonomi Tumbuh, Kelas Menengah Menyusut
Inilah yang membuat fenomena ini begitu mengkhawatirkan: Indonesia tumbuh 5–6 persen per tahun, namun kelas menengah justru mengecil. Bagaimana bisa?
Bank Dunia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat. Upah riil pekerja berkeahlian menengah dan tinggi justru menyusut sekitar 1 hingga 2 persen per tahun sejak 2018. Ekonomi tumbuh, tapi buahnya tidak merata — dan kelas menengah adalah yang paling terdampak.
"Ketika jumlah mereka menyusut, yang sesungguhnya tergerus adalah rasa percaya bahwa kerja keras akan membawa kemajuan. Jika mesin mobilitas sosial terus melambat, yang hilang bukan sekadar angka 1,2 juta."
— Dr. Wisnu Setiadi Nugroho, Ekonom Universitas Gadjah Mada
📊 Fakta & Angka: Penyusutan Kelas Menengah Indonesia
Puncak 2019
57,3 Jt
orang
Tahun 2024
47,9 Jt
orang
Tahun 2025
46,7 Jt
orang (↓1,2 jt)
Pekerja Kelas Menengah
7%+
dari 14,5% (2018)
Sumber: Mandiri Institute / BPS, Bank Dunia IEP Juni 2026
Akar Masalah: Lapangan Kerja Tanpa Kualitas
Menurut Ekonom UGM Dr. Wisnu Setiadi Nugroho, penyusutan kelas menengah bukan sekadar angka — melainkan menyangkut rasa aman masyarakat. Ia menyebut salah satu penyebab utamanya adalah jenis lapangan kerja yang tersedia.
Kini banyak lapangan kerja baru yang bersifat survival-based — hanya cukup untuk bertahan hidup, namun tidak untuk naik kelas. Ekonomi gig, kerja informal, dan pekerjaan berproduktivitas rendah memang menyerap tenaga kerja, namun jarang menyediakan stabilitas pendapatan, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas. Akibatnya, jutaan pekerja terperangkap di batas bawah kelas menengah — cukup dekat untuk naik, tetapi sangat rentan turun.
Tekanan Ganda: Utang Naik, Konsumsi Stagnan
Data Mandiri Institute menunjukkan pola konsumsi yang mengkhawatirkan: pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah pada 2025 hanya 4,1 persen — terendah dibandingkan kelompok ekonomi lain. Namun di sisi lain, pengeluaran untuk pembelian ponsel justru melonjak 31 persen dan transportasi naik 22 persen. Konsumsi pangan stagnan di 0,9 persen.
Yang lebih mengkhawatirkan, OJK mencatat pertumbuhan pinjaman daring sebesar 25 persen per tahun dengan nilai Rp 96,6 triliun hingga Desember 2025. Pembiayaan pergadaian meningkat 48 persen mencapai Rp 130 triliun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian kelas menengah menggunakan utang untuk mempertahankan gaya hidup — bukan untuk investasi produktif. Tanda yang sangat serius.
🔍 Faktor Utama Penyusutan Kelas Menengah Indonesia
Kualitas Lapangan Kerja Memburuk
Proporsi pekerja bergaji kelas menengah turun hampir separuh (14,5% → 7%) dalam 7 tahun. Upah riil stagnan atau bahkan menurun.
Tekanan Biaya Hidup dan Inflasi
Biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, dan transportasi meningkat lebih cepat dari kenaikan penghasilan rata-rata kelas menengah.
Pola Konsumsi yang Tidak Produktif
Pengeluaran untuk ponsel dan transportasi melonjak, sementara tabungan dan investasi stagnan. Utang konsumsi meningkat signifikan.
Ruang Fiskal Pemerintah Menyempit
Kontribusi belanja pemerintah terhadap PDB turun dari sekitar 12% ke 7% di kuartal III 2025, membatasi kemampuan intervensi sosial.
❓ Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Berapa ambang batas pengeluaran kelas menengah di Indonesia?
BPS 2025 menetapkan ambang batas pengeluaran kelas menengah pada Rp 2,13 juta per orang per bulan. Dengan rata-rata gaji lulusan S1-S3 per November 2025 hanya Rp 4,63 juta, rumah tangga dengan lebih dari satu tanggungan sangat rentan berada di bawah ambang batas ini.
Apa itu aspiring middle class dan mengapa jumlahnya meningkat?
Aspiring middle class adalah kelompok yang berada tepat di bawah ambang kelas menengah — cukup dekat untuk naik, namun sangat rentan turun. Jumlahnya kini mencakup 50,4% populasi atau sekitar 142 juta jiwa. Peningkatan ini bukan tanda kemajuan, melainkan sinyal bahwa banyak orang yang sebelumnya kelas menengah kini "turun kelas."
Apa yang bisa dilakukan individu untuk bertahan sebagai kelas menengah?
Secara individu: diversifikasi sumber pendapatan, investasi dalam pengembangan keterampilan yang relevan dengan pasar, kurangi utang konsumtif, perbesar alokasi tabungan dan investasi produktif, serta hindari gaya hidup yang dipaksakan melebihi kemampuan finansial riil.
📌 Sumber: Laporan Bank Dunia Indonesia Economic Prospects (IEP) Juni 2026, data Mandiri Institute/BPS 2025, dan analisis Ekonom UGM Dr. Wisnu Setiadi Nugroho. Penyusutan kelas menengah bukan masalah statistik semata — ia adalah krisis mobilitas sosial yang membutuhkan respons struktural dari pemerintah maupun adaptasi serius dari masyarakat.