Sudah Hampir 2 Tahun Porak-poranda — 1.500 Mahasiswa UI Kepung Bundaran HI, Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Prabowo
Ribuan pasang kaki berbaris meninggalkan kampus pagi itu. Spanduk-spanduk besar terbentang di sepanjang jalan. Di antaranya, satu tulisan yang langsung memukul perhatian siapapun yang membacanya: "Sudah hampir 2 tahun memporak-porandakan negara."
Itu bukan retorika sembarangan. Itu adalah kalimat yang dipilih dengan sadar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) sebagai wajah dari demonstrasi mereka hari ini. Pada Jumat, 12 Juni 2026, sekitar 1.500 mahasiswa dari berbagai fakultas UI — bersama perwakilan dari UPN Veteran Jakarta dan Institut Pertanian Bogor — memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Aksi bertajuk "Menuju Indonesia Bangkrut" ini adalah salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar di Jakarta tahun ini. Dan pesannya tidak bisa lebih jelas: mereka minta pemerintah berhenti mengelak dan mulai bertanggung jawab.
📌 Info Aksi: Demo BEM UI "Menuju Indonesia Bangkrut" · Bundaran Hotel Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat · Jumat, 12 Juni 2026, mulai pukul 10.00 WIB · Diikuti sekitar 1.500 mahasiswa dari UI, UPN Veteran Jakarta, dan IPB
5 Tuntutan yang Dibawa ke Jantung Jakarta
Lima tuntutan ini bukan lahir dalam semalam. Ia merupakan hasil konsolidasi panjang BEM se-UI yang mempertemukan perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas. Setiap poin mewakili satu titik nyeri yang dirasakan langsung oleh masyarakat di kehidupan sehari-hari:
📢 5 Tuntutan Resmi BEM UI — 12 Juni 2026
Hentikan Pemborosan APBN
Pengeluaran negara dinilai tidak efisien, tidak tepat sasaran, dan tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas
Turunkan Harga BBM & Kebutuhan Pokok
Harga Pertamax naik lebih dari 30% per 10 Juni 2026. Daya beli masyarakat terus tergerus sementara harga bahan pokok ikut merangkak naik
Hentikan Program MBG & Koperasi Desa Merah Putih
Program dinilai tidak menjawab kebutuhan nyata masyarakat, tidak tepat sasaran, dan membebani anggaran negara secara tidak proporsional
Hentikan Militerisme di Ranah Sipil
Penolakan terhadap penempatan dan pelibatan unsur militer dalam fungsi-fungsi dan institusi yang seharusnya bersifat sipil murni
Presiden Prabowo Akui Kesalahan & Berhenti Mengelak
Mahasiswa mendesak pertanggungjawaban konkret dari kepala negara — bukan retorika angka pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai dengan realita kehidupan rakyat
Suara dari Lapangan: Angka Bagus di Kertas, Berat di Kehidupan Nyata
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan tidak berbicara dengan kalimat basa-basi. Ia berbicara tentang jarak — jarak antara apa yang diklaim pemerintah dan apa yang dirasakan rakyat setiap harinya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang selalu disebut dalam pernyataan resmi pemerintah tidak terasa di tingkat masyarakat bawah. Harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan gula terus naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Beban pajak semakin berat. Dan kini, harga Pertamax naik lebih dari 30% dalam semalam — sebuah kenyataan yang langsung terasa di setiap SPBU di seluruh Indonesia.
"Kami memandang memberi kesempatan dan waktu untuk pemerintah sudah terlalu lama kami coba. Kritik lewat data sudah disampaikan dan selalu diabaikan. Pemerintah memilih mengelak alih-alih bertanggung jawab."
— Yatalathof Ma'shum Imawan, Ketua BEM Universitas Indonesia
Water Cannon dan Lapis Baja Siaga di Bundaran HI
Jauh sebelum massa mahasiswa tiba, aparat keamanan sudah lebih dulu bersiaga di kawasan Bundaran HI. Personel gabungan dari Brimob, Sabhara, TNI, dan Polantas memperketat pengamanan di seluruh titik strategis sekitar lokasi aksi. Kendaraan water cannon, kendaraan lapis baja, dan ambulans sudah ditempatkan di posisi siaga sejak pukul 09.47 WIB — sebelum demonstrasi resmi dimulai pukul 10.00 WIB.
BEM UI sendiri sebelumnya sudah mengingatkan masyarakat mengenai potensi kemacetan di sekitar Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin sepanjang hari. Sebuah langkah yang mencerminkan tanggung jawab dan kedewasaan berdemokrasi — aksi digelar, tapi dampak bagi warga sekitar tetap dipertimbangkan.
Mengapa Sekarang? Konteks yang Tidak Bisa Diabaikan
Demonstrasi ini bukan lahir dari kekosongan. Ia adalah akumulasi dari tekanan-tekanan yang datang bertubi-tubi dalam waktu singkat. Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000-an per dolar AS. Kenaikan harga Pertamax lebih dari 30% yang berlaku per 10 Juni 2026 — dua hari sebelum aksi ini digelar. Harga bahan pokok yang terus merangkak. Lapangan kerja yang semakin sempit. Dan berbagai kebijakan pemerintah yang menurut para mahasiswa tidak berpijak pada realita kehidupan sehari-hari.
Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, merangkumnya dengan kalimat yang sederhana tapi tajam: rupiah dan IHSG memang sempat menguat, tapi tidak ada yang sebanding dengan kenaikan harga bensin yang terjadi begitu tiba-tiba dan begitu besar. Angka makroekonomi dan pengalaman nyata di pompa bensin adalah dua dunia yang berbeda — dan mahasiswalah yang biasanya pertama kali berani menyuarakan jurang itu.
📌 Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi resmi dari berbagai sumber terpercaya per 12 Juni 2026. Redaksi berkomitmen menyajikan berita yang berimbang dan akurat dari semua pihak yang terlibat. Situasi aksi masih terus berkembang.